Megengan Dan Shalat Taraweh

Dr. H. Muhtadi, S. Ag. M. HI

Oleh: Dr. H. Muhtadi, M. HI

Alhamdulillah puji Syukur Kehadirat Alloh SWT, pandemi Covid 19, pada bulan Ramadhan tahun ini (1442 H) lebih landai dan terkendali dibanding bulan-bulan sebelumnya, hal ini bisa diukur setidaknya dilihat dari syiar shalat tarawih, kultum setelah shalat witir, atau kajian keagamaan menjelang berbuka puasa, tadarus al-Quran di hampir semua masjid dan musholla kali ini lebih banyak dihadiri oleh jamaah.

Bahkan tidak sedikit orang yang selama ini, hampir tidak pernah ke masjid atau mushalla, dengan antusias dan semangatnya ikut shalat isyak dan tarawih setiap hari. Untuk memperoleh berkahnya bulan Ramadhan, bukan saja dimulai saat Ramadhan tiba, namun kebanyakan sudah mulai dari bulan Rajab dengan puasa sunnah, meng-Evaluasi shalat yang telah dilakukan agar lebih baik, dan dilanjutkan dengan berpuasa serta amal shalih di bulan Sya’ban.

Mengapa Bulan Sya’ban
Orang jawa menyebut bulan Sya’ban dengan bulan ruwah, kata ruwah sendiri memiliki akar kata arwah atau roh, konon dari arti kata arwah inilah bulan dijadikan untuk mengenang para leluhur dan ziyarah ke makamnya beberapa hari menjelang bulan Ramadhan tiba.

Tradisi lain pada akhir bulan sya’ban (ruwah), atau malam Ramadhan pertama, diadakan selamatan kecil (megengan) dibawa ke masjid atau musholla dengan dibacakan tahlil guna kirim doa kepada para leluhur yang pada intinya melambangkan rasa syukur kepada Allah SWT atas masuknya bulan suci Ramadhan (syahru al-Quran, syahru al-Shabri, atau syahru al-Shiyam).

Setelah Ramadhan tiba, shalat tarawih merupakan salah satu amalan khusus di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan-keutamaan yang ditemukan landasannya dari hadith Nabi Muhammad saw yang artinya, “Barangsiapa ibadah di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas karena Allah, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, al-Muslim, dan lainnya).

Ulama sepakat bahwa redaksi “qama ramadhana” di dalam hadith tersebut mengacu pada makna shalat tarawih,
Shalat Tarawih.

Sejarah shalat tarawih adalah shalat yang dilakukan hanya pada bulan Ramadhan dan shalat tarawih ini dikerjakan Nabi Muhammad saw pada tanggal 23 Ramadhan tahun kedua hijriyah. Rasulullah pada masa itu mengerjakannya tidak selalu di masjid, melainkan terkadang di rumah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadith yang artinya: Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin ra, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak orang shalat mengikuti beliau.

Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah saw, justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, Sungguh aku melihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir bila shalat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, ‘Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tarawih secara berjamaah di masjid dilakukan kembali pada masa Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) dengan Jumlah 20 rokaat yang dijeda istirahat sejenak setiap 2 rokaat. Nama tarawih yang berarti istirahat sejenak disinyalir muncul pada masa Umar bin Khattab ra, sedangkan masa sebelumnya tidak disebut shalat tarawih, namun disebut Qiyam Ramadhan (menghidupkan Ramadhan).

Sehingga ada ulama’ yang mengatakan bahwa shalat taraweh itu 20 rokaat ditambah witir 3 rokaat, sedangkan yang melakukan 8 rokaat dan 3 witir itu disebtnya Qiyam Ramadhan bukan tarawih (al-Maghfur lah Mbah Maimun Zubair)
Banyak ayat-ayat al-Quran maupun hadith nabi yang menjelaskan keutaman bulan Ramadhan, misalnya ada sebuah hadith yang mengatakan 10 hari pertama di bulan Ramadhan adalah hari yang penuh maghfirah, 10 hari kedua penuh rahmat, dan 10 hari terakhir pembebasan dari api Neraka, bulan di mana pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syetan dibelenggu. Hadith tersebut memberi memotifasi umat islam berlomba-lomba meraih kebaikan (fastabiqu al-Khairat), mencurahkan tenaga dan kemampuannya guna meraih predikat muttaqin (orang-orang yang bertakwa), dan meraih lailat al-Qadr yaitu semalam lebih baik dari 1000 bulan (al-Qadr, ayat 3).

Sehubungan dengan mumentum yang istimewa tersebut Allah SWT berfirman yang artinya:“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat), sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 148).

Makna kalimat fastabiqul khairat dalam ayat tersebut adalah bersegera mentaati, menerima, dan mengikuti perintah atau syariat Allah SWT. Konteksnya adalah perintah Allah SWT untuk mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.

Kalimat ini menanamkan sebuah prinsip keimanan di dalam dada kaum muslimin yaitu bersegera, berlomba-lomba, serta menjadi yang terdepan dalam melaksanakan ketaatan dan meraih ridha Allah SWT.

Mengapa harus menyegerakan amal shalih ( fastabiqu al-Khairat)?

Pertama, karena waktu yang kita miliki hanyalah waktu sekarang, apa yang kan aterjadi esok hari kita tidak tahu, kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Maka rasulullah saw mengingatkan kepada kita seperti dalam hadith yang artinya“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai yaitu, kesehatan, dan kesempatan atau waktu senggang” (HR. al-Tirmidzi).

Ibnu Mas’ud pun pernah berkata, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu, kecuali hanyalah pada suatu hari dimana matahari telah terbenam, pada hari itu umurku berkurang, akan tetapi amal baikku tidak bertambah”.

Kedua, amal kita tidak bisa dikerjakan orang lain, masing-masing orang akan datang kepada Allah SWT dengan amal perbuatan yang dikerjakannya sendiri di dunia. Kita akan sibuk dengan urusan amalnya masing-masing. Allah SWT  berfirman yang artinya :“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa, 80: 34-37).

Ketiga, kemuliaan dan keridhoan Allah SWT hanya terdapat pada ketaatan, derajat seseorang di sisi-Nya, lebih disebabkan oleh kesungguhannya dalam merespon seruan dan pengamalannya, firman Allah yang artinya“Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam sorga-sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Nisa’: 13)

Keempat, setiap aktivitas mempunyai waktu tersindiri, karenanya ketika datang masa untuk mengerjakan suatu amalan, seharusnya dengan segera dikerjakan sebelum tiba untuk mengerjakan amalan yang lain.

Ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT mengajarkan kepada kita untuk selalu melaksanakannya tepat waktu, misalnya perintah shalat, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya shalat itu merupakan kuwajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (al-Nisa’: 103).

Terkait dengan fastabiku al-Khairat tersebut, Nabi Muhammad saw, di dadalam bulan Ramadhan memliki beberapa amalan khusus, yaitu meningkatkan semua bentuk ibadah misalnya, bersedekah, tadarus al-Quran, rajin berdzikir dan berdoa, menjaga silaturrahmi, memberi makan orang yang berpuasa. Jika memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan Beliau membangunkan keluarganya di malam hari dan mengajaknya untuk melakukan i’tikaf di masjid, dan menjalankan shalat malam.

Demikian tulisan singkat ini, semoga kita mampu berlomba-lomba untuk menjalankan ibadah di bulan Romadhan dengan maksimal, dengan berharap memperoleh maghfirah, rahmat, serta terbebas dari api neraka.

Dan yang tidak kalah pentingnya semoga kita mendapat lailatu al-Qadar serta ridha Allah SWT, agar hidup kita berkah di dunia dan kelak di akhirat. Amin ya Robbal Alamin. (*)

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Darul Ulum Jombang
*) Email : muhtadimahfudz@gmail.com

Penulis:Dr. H. Muhtadi, M. HI
Sumber:WartaTransparansi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *